... TO BE A FOOL

There's no fool like an old fool

Diberdayakan oleh Blogger.
  • Home
  • Travel
  • Contact Us
  • Tentang
    • Aku
    • Indonesia
    • Downloadable

Menolong orang itu menyenangkan

Untuk kesekian kalinya melihat orang kecelakaan. Semenjak di Jakarta, semasa kuliah di Bintaro, sering sekali melihat kecelakaan di jalanan. Terutama ibu-ibu atau perempuan yang memang ditakdirkan untuk memiliki keseimbangan lebih jelek daripada laki-laki, golongan manusia jenis ini lebih sering mengalami kecelakaan. Entah karena golongan lain, pria, lebih beringas sehingga menyebabkan perempuan-perempuan mengalami hal ini di jalanan. Ya, di Jakarta dulu jangankan kecelakaan, ibu-ibu kehabisan bensin pun ingin aku tolong.
Beberapa kali, aku berusaha tidak berhenti untuk menolong. Tapi semenjak di Kupang, mulai lupa kalo harus tidak lagi menolong orang. Disana jarang orang kecelakaan.

Malam kemarin, pulang kuliah kembali ada seorang perempuan kecelakaan dibawah jalan layang Palur. Suasana macet, perempuan itu nampak baru pulang kerja. Mengendarai motor bebek, bukan matic. Tertabrak mobil ber Plat L. Terjatuh, nampak tidak ada seorang pun menolong. Karena memang tidak ada tempat berhenti, yang hanya akan menambah kemacetan disana. Aku di mobil bersama Adit, memutuskan untuk keluar menolongnya. Setelah membantu mendirikan mobilnya, mengetahui dia dalam keadaan baik-baik saja. Langusng kembali lagi ke mobil.

Terlambat sadar

Aku baru sadar ketika sampai dirumah, aku telah berbuat salah yang bisa mencelakakan kaumku. Aku lupa bertanya dia beragama apa. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga Hindu. Tidak semua orang bersedia menerima pertolongan kami. Beberapa kasus seperti di Lampung, dan di Sumbawa. Perempuan akan merasa dilecehkan bila di bantu oleh golongan kami.

Daripada menolong orang, tapi bisa mencelakakan lebih banyak orang terutama keluarga dan orang-orang terdekat. Maka aku putuskan ketika menolong orang, akan aku tanya lagi dia beragama apa.

Agamamu apa? Aku hanya ingin membantu.

No one Choose to be Refugees

Perang di Timur Tengah tidak pernah berakhir sepanjang jaman. Its Never Ending War at the Holy Land. Sebuah Perang di tanah para pemikir dan penerus sabda-sabda Tuhan. Perang di antara pemeluk agama paling religius. Apa yang terjadi dengan tanah ini.

Irak, Afganistan, Palestina, Mesir, Tunisia, Libya dan lainnya mengalami perang yag berkepanjangan. USA menjadi yang paling bertanggung jawab terjadinya perang. Tetapi pada masa perang yang paling beratnggung jawab adalah pihak yang bertikai. 

Saat ini ISIS menjadi penjahat perang nomor dua yang paling mematikan di Abad 21. Tentunya USA menjadi negara yang paling banyak menyerang atau menimbulkan perang di negara tersebut. 

Seperti halnya perang brutal lainnya yang menjadi korban adalah PEREMPUAN dan ANAK-ANAK. Amerika melakukan kejahatan perang yang sama dengan ISIS tetapi mereka memiliki kemampuan lebih untuk meyakinkan pemimpin dunia bahwa hal yang mereka lakukan adalah benar. Sampai saat ini, USA dan NATO yang telah menyerang IRAK dan AFGANISTAN tidak pernah mempertanggungjawabkan perbuatannya. United Nations tidak bisa berbuat apa-apa atas kelompok kuat terbesar di Dunia. Sama halnya di Indonesia saat Pembunuhan terhadap kaum minoritas maka yang salah adalah kaum minoritas. Di Dunia saat ini yang disalahkan adalah Taliban, Pemimpin Diktator Suriah, Irak, Libya, Mesir, Tunisia, Ukraine dan lain-lain. NATO sekali lagi sebagai mayoritas menjadi pembela kebenaran yang selalu benar berbuat apa saja.

Refugees and The War

Setiap orang, dalam hal ini jiwa-jiwa yang tua yang ada dalam diri kita pasti merasakan hal yg sama. Walaupun kita tidak mengalami peperangan, tetapi jiwa-jiwa kita pada kehidupan sebelumnya pasti memiliki masa-masa perang. Sekilas ketika kita iba terhadap para Refugees, tanpa sadar kita merasakan hal yang sama seperti mereka. 
Tiga hal yang dilakukan saat perang adalah:
Bersembunyi menjadi hal yang paling utama kita lakukan. Saat dimana perasaan paling takut muncul. Muncul karena takut terbunuh, membayangkan musuh memperlakukan anak, istri, suami, orang tua, tetangga, teman atau orang lain akan seperti apa.

Menyerah, menyerah untuk bertahan hidup, akan tetapi dunia saat ini tidak seperti pada jaman dahulu, ketika menyerah, semua berakhir. Menyerah adalah Mati. Hampir semua tentara baik pemberontak maupun pemerintah akan lebih memilih membunuh tawanan perang.

Melawan, melawan adalah pilihan utama. Akan tetapi saat ini perang bukanlah perang yang fair seperti pada jaman Mahabaratha atau Zaman Majapahit. Dikala perang dimulai dengan negosiasi, tempat berperang dan siapa yang boleh dibunuh dan apa yang menandakan kita  menang atau kalah. 



Postingan Lama Beranda

ABOUT AUTHOR

Full time colleger, dedicated to study, friendly in nature. Get in touch with the email id's mentioned. ;)

POPULAR POSTS

  • Gadis lainnya
  • Yakin?
  • Minum Susu
  • Belajar Menulis
  • IF [Judulnya]

Categories

  • Belajar dari Hujan
  • Memaknai kehidupan
  • Random
  • Traveling
  • teman

Advertisement

UNDER MAINTENANCE THE CREATOR HAS EXAM FOR A WEEK

Kunjungan

FOLLOW ME @ INSTAGRAM

Copyright © 2016 ... TO BE A FOOL. Created by OddThemes