Tamblang, Masyarakat Desa Tamblang
![]() |
| Sekaa Gong Ibu-ibu desa Tamblang |
Masyarakat Desa Tamblang adalah masyarakat yang tergolong unik dalam bertingkah laku dan sangat terbuka pada pendatang karena mereka kebanyakan suka mencari teman.
Seperti kebanyakan penduduk Bali utara, masyarakat desa Tamblang sangatlah terbuka dan ramah terhadap pengunjung yang datang ke Tamblang. Mereka selalu senang berteman tanpa membeda-bedakan ras maupun asal teman mereka. Ketika berbicara, mereka sangat lugas dan tegas, apa yang mereka katakan adalah apa yang mereka pikirkan. Hampir semua vocal /a/ yang berada di akhir kata diucapkan /o/ bukan /e/.Sebagai contoh, orang Tamblang akan berkata,"Lakar kijo?" [Mau kemana?] sedangkan penduduk Singaraja lainnya akan mengatakan "Lakar kije?.
Dalam hal pertanian, para pria bertanggung jawab untuk memelihara sapi, melatih sapi untuk bekerja di sawah, membajak sawah, dan menanam padi. Sedangkan para wanitanya memelihara babi dan berperan cukup besar dalam panen. Disaat para pria sibuk bekerja di sawah, para wanita juga sibuk berjualan di warung mereka atau bekerja sebagai buruh dalam industri rumah tangga.
![]() |
| Pengukuhan sekaa Truna-Truni |
Jaman dahulu, banyak wanita yang bekerja sebagai penumbuk padi. Mereka bekerja setiap hari kepada keluarga kaya yang memiliki hasil panen melimpah. Para wanita ini dibayar tunai, namun mereka juga menerima sejumlah beras tergantung dari berapa kilogram beras yang dihasilkannya pada hari itu.
Sejumlah pria juga ada yang bekerja sebagai buruh panggul di pasar di mana mereka menaikkan atau menurunkan barang dari truk-truk besar. Mereka meraih penghasilan mereka secara harian. Tidak sedikit juga di antara pria desa Tamblang yang bekerja sebagai pekerja proyek yang bekerja di konstruksi sekala kecil sampai menengah di Denpasar, Singaraja maupun di daerah lain di Bali.
Ketika bisnis pariwisata berkembang pesat di Bali pada tahun 80 dan 90-an, muda-mudi desa Tamblang banyak bekerja di bisnis ini. Terutama mereka bekerja di daerah Bali selatan dimana mereka bekerja sebagai pemandu wisata, pelayan restoran dan banyak lagi bisnis lainnya. Sangat menarik untuk dicatat bahwa hanya sedikit dari orang Tamblang yang bekerja sebagai pegawai pemerintahan.
Perlu di garis bawahi bahwasanya tidak sedikit dari orang Tamblang yang menyelesaikan pendidikan sarjana mereka. Beberapa di antara mereka bahkan memegang gelar master maupun doktor. Namun biasanya orang-orang tersebut bekerja di institusi pendidikan tersier di Denpasar, Singaraja dan bahkan Jakarta, Surabaya dan Bandung.
Wanita dari Tamblang, sangat ahli dalam membuat banten dan juga mempersiapkan upacara tradisional, mereka juga mahir dalam membuat hidangan ala Bali. Beraneka ragam produksi termasuk konteng, gipang, dodol, dan satuh kini menjadi industri penting yang dijual sampai ke Denpasar. Beberapa keluarga juga terlibat dalam produksi dupa Bali.
Tentu saja, jajanan tradisional Bali seperti laklak,apem,kaliadrem,sirat,batun duren maupun buah bunut juga tersedia.
Jadi ketika Anda melewati desa Tamblang dalam perjalanan Anda dari Kintamani menuju Singaraja maupun sebaliknya, jangan lupa singgah sejenak untuk menikmati jajanan tersebut maupun hidangan lain dari Tamblang.
oleh : Beli Made Sariyanta, Tamblang



0 komentar
If every word I said Could make you laugh? :)