Lupa bertanya, Agamamu apa?

Menolong orang itu menyenangkan

Untuk kesekian kalinya melihat orang kecelakaan. Semenjak di Jakarta, semasa kuliah di Bintaro, sering sekali melihat kecelakaan di jalanan. Terutama ibu-ibu atau perempuan yang memang ditakdirkan untuk memiliki keseimbangan lebih jelek daripada laki-laki, golongan manusia jenis ini lebih sering mengalami kecelakaan. Entah karena golongan lain, pria, lebih beringas sehingga menyebabkan perempuan-perempuan mengalami hal ini di jalanan. Ya, di Jakarta dulu jangankan kecelakaan, ibu-ibu kehabisan bensin pun ingin aku tolong.
Beberapa kali, aku berusaha tidak berhenti untuk menolong. Tapi semenjak di Kupang, mulai lupa kalo harus tidak lagi menolong orang. Disana jarang orang kecelakaan.

Malam kemarin, pulang kuliah kembali ada seorang perempuan kecelakaan dibawah jalan layang Palur. Suasana macet, perempuan itu nampak baru pulang kerja. Mengendarai motor bebek, bukan matic. Tertabrak mobil ber Plat L. Terjatuh, nampak tidak ada seorang pun menolong. Karena memang tidak ada tempat berhenti, yang hanya akan menambah kemacetan disana. Aku di mobil bersama Adit, memutuskan untuk keluar menolongnya. Setelah membantu mendirikan mobilnya, mengetahui dia dalam keadaan baik-baik saja. Langusng kembali lagi ke mobil.

Terlambat sadar

Aku baru sadar ketika sampai dirumah, aku telah berbuat salah yang bisa mencelakakan kaumku. Aku lupa bertanya dia beragama apa. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga Hindu. Tidak semua orang bersedia menerima pertolongan kami. Beberapa kasus seperti di Lampung, dan di Sumbawa. Perempuan akan merasa dilecehkan bila di bantu oleh golongan kami.

Daripada menolong orang, tapi bisa mencelakakan lebih banyak orang terutama keluarga dan orang-orang terdekat. Maka aku putuskan ketika menolong orang, akan aku tanya lagi dia beragama apa.

Agamamu apa? Aku hanya ingin membantu.

Share:

0 komentar