Refugees
No one Choose to be Refugees
Perang di Timur Tengah tidak pernah berakhir sepanjang jaman. Its Never Ending War at the Holy Land. Sebuah Perang di tanah para pemikir dan penerus sabda-sabda Tuhan. Perang di antara pemeluk agama paling religius. Apa yang terjadi dengan tanah ini.
Irak, Afganistan, Palestina, Mesir, Tunisia, Libya dan lainnya mengalami perang yag berkepanjangan. USA menjadi yang paling bertanggung jawab terjadinya perang. Tetapi pada masa perang yang paling beratnggung jawab adalah pihak yang bertikai.
Saat ini ISIS menjadi penjahat perang nomor dua yang paling mematikan di Abad 21. Tentunya USA menjadi negara yang paling banyak menyerang atau menimbulkan perang di negara tersebut.
Seperti halnya perang brutal lainnya yang menjadi korban adalah PEREMPUAN dan ANAK-ANAK. Amerika melakukan kejahatan perang yang sama dengan ISIS tetapi mereka memiliki kemampuan lebih untuk meyakinkan pemimpin dunia bahwa hal yang mereka lakukan adalah benar. Sampai saat ini, USA dan NATO yang telah menyerang IRAK dan AFGANISTAN tidak pernah mempertanggungjawabkan perbuatannya. United Nations tidak bisa berbuat apa-apa atas kelompok kuat terbesar di Dunia. Sama halnya di Indonesia saat Pembunuhan terhadap kaum minoritas maka yang salah adalah kaum minoritas. Di Dunia saat ini yang disalahkan adalah Taliban, Pemimpin Diktator Suriah, Irak, Libya, Mesir, Tunisia, Ukraine dan lain-lain. NATO sekali lagi sebagai mayoritas menjadi pembela kebenaran yang selalu benar berbuat apa saja.
Refugees and The War
Setiap orang, dalam hal ini jiwa-jiwa yang tua yang ada dalam diri kita pasti merasakan hal yg sama. Walaupun kita tidak mengalami peperangan, tetapi jiwa-jiwa kita pada kehidupan sebelumnya pasti memiliki masa-masa perang. Sekilas ketika kita iba terhadap para Refugees, tanpa sadar kita merasakan hal yang sama seperti mereka.
Tiga hal yang dilakukan saat perang adalah:
Bersembunyi menjadi hal yang paling utama kita lakukan. Saat dimana perasaan paling takut muncul. Muncul karena takut terbunuh, membayangkan musuh memperlakukan anak, istri, suami, orang tua, tetangga, teman atau orang lain akan seperti apa.
Menyerah, menyerah untuk bertahan hidup, akan tetapi dunia saat ini tidak seperti pada jaman dahulu, ketika menyerah, semua berakhir. Menyerah adalah Mati. Hampir semua tentara baik pemberontak maupun pemerintah akan lebih memilih membunuh tawanan perang.
Melawan, melawan adalah pilihan utama. Akan tetapi saat ini perang bukanlah perang yang fair seperti pada jaman Mahabaratha atau Zaman Majapahit. Dikala perang dimulai dengan negosiasi, tempat berperang dan siapa yang boleh dibunuh dan apa yang menandakan kita menang atau kalah.
Tags:
Humanity

0 komentar